Beberapa bulan terakhir saya sedang asyik-asyiknya tenggelam dalam dunia hiburan Korea, asyik mengamati sepak terjang artis idola terupdate. Walhasil, penyakit Otaku yang sedang saya derita makin menjadi-jadi. Temen-temen Kosan sudah menganggap saya 'pergi ke dunia lain' dunia orang-orang cuek yang tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Dan karena demam K-Pop itulah saya jadi males nerusin blog ini, asyik melototin dance Suju, AS, SNSD, Rain dll. Bagi yang nggak kenal sama nama yang saya sebutin tadi, nggak usah bingung, nama-nama itu nggak cukup penting untuk dimasukkan ke dalam bank pengetahuan Anda dalam rangka mencari pekerjaan. Kecuali jika perusahaan yang Anda incar LG atau Samsung, sedikit memuji artis dari negeri asal mereka mungkin sedikit membantu.
Perkenalan saya dengan K-Pop dimulai ketika sahabat saya memaksa saya untuk melototin foto-foto Choi Shiwon, dilanjutkan dengan MV Suju. MV yang pertama saya lihat adalah Neorago. Dari sana saya jatuh cinta dengan Hangeng, mulailah saya terjun menjelajahi dunia K-Pop. Setiap keping informasi baru masuk perlahan ke otak dan mengendap di sana, keberadaannya mulai mengusir pasal-pasal PSAK yang seharusnya tak boleh lepas dari kepala. Kayaknya kelulusan masih harus menunggu lebih lama. Yah, ini akibatnya kalau tidak memberontak di waktu yang tepat. Maksud saya, harusnya semua ini saya lakukan semasa SMA, bukannya sekarang saat yang lain sedang sibuk mikirin gimana jadi MT di GE atau kerja di Big Four. Yah, tapi gak papa lah, saya nikmatin aja, daripada ntar waktu usia mendekati 30 baru berulah, makin gawatlah efek yang ditibulkan. Hohoho...
Dari K-Pop saya perlahan mendekati Mando-Pop. Sebenarnya bukan dunia musiknya tapi lebih ke dunia drama mereka. Mulai deh saya mempelajari drama Taiwan satu per satu, membandingkannya dengan drama-drama Korea dan dorama Jepang. Satu harapan saya, kapan sinetron Indonesia bisa sebagus mereka. Padahal artis-artisnya gak kalah cantik. Kita punya beberapa sutradara yang cukup handal tapi yah... patut diperbaiki kualitas penulis skenario kita. Kemampuannya belum cukup mumpuni untuk menghasilkan naskah yang bisa meajai Asia. Eh, kayaknya saya keterlaluan bicaranya, ada kok penulis yang bagus. Cuma karena kebanyakan nonton sinetron jiplakan bikin saya jadi berfikir negatif duluan. Btw, saya kaget setengah mati ketika menemukan fakta bahwa Hilman (si bapaknya Lupus) yang bikin skenario Cinta Fitri (1,2,3) secara ide cerita awalnya kan banyak yang bilang njiplak sebuah drama korea (saya nggak tahu njiplak apa, berhubung gak nonton sinetronnya). Wah, saya kaget bukan maen, penulis semumpuni Hilman aja masih kena jeratan ini, apalagi yang lainnya.
Dari demam K-Pop saya juga menyadari kalau orang Korea sangat kreatif dalam membuat industri musik mereka mendunia. semuanya terintegrasi, dari manajemen artisnya, dunia pertelevisiannya, pemerintahannya dan lain-lain. Akibatnya memang membuat kekuatan tawar artis jadi kecil (mudah didepak dari industri ini) tapi mereka berhasil ngekspor industri hiburan mereka ke seluruh dunia. Nggak kecil lho, angka yang disumbangkan buat devisa negara mereka. Mungkin kita bisa meniru mereka. Pertama, mungkin pemerintah kita mau bikin konser-konser Indonesian Pop di luar negeri (kalau nggak salah pernah diadain di Malaysia, ayo kia coa Taiwan, Cina, India, Amerika, dll). Kedua, ayo tambah lagi show-show kretifnya... Ketiga, maksimalin kemampuan manajemen artis. Kemampuan ini benar-benar dibutuhkan untuk membawa dunia musik Indonesia ke luar. Makanya saya sedikit kecewa dengan tindakan Maya Estianti keluar RC dan bikin manajemen sendiri. Buat saya, adalah sebuah tindakan bego untuk meniadakan peran manajer artis. Ya sudahlah, ngomongnya....kebanyakan maki negeri sendiri juga nggak baik.
Btw, kalau dari segi dramanya apa yang bisa saya pelajai? Satu hal yang saya sadari, penulis skenario mereka benar-benar unggul dalam menelurkan ide-ide cerita yang diluar dugaan. Mereka juga jago menciptakan dialog-dialog yang nggak membosankan. Tapi kalau urusan alur cerita, Taiwan jagonya. Makanya drama-drama Taiwan yang ide ceritanya nggambil dari serial Jepang (Itazurana Kiss, Honey & Clover, dll) hasilnya jadi bagus banget. Jepang memang dikenal sebagai pencipta cerita jempolan dari industri komik mereka makanya jika digabungkan dengan kemampuan penyutradaraan Cina, hasilnya jadi double. Kalau dari segi aktor-aktrisnya, nggak tahu deh susah ngebandinginnya. Yang pasti saya sadar, aktor-aktris Korea nggak ngebosenin (tapi mungkin itu juga didukung sama kemampuan operasi plastik mereka). Oh ya... stylist dan make-up artist Korea unggul dari yang lain. Di Indonesia, gaya fashion remaja Bandung mendekati mereka.
Sekarang saya menunggu kapan RAN, Sherina, Vierra, artis-artis RCM, Hello, band-band lagu-lagu melayu (buanyaknya) mendunia dengan musik mereka. Oh ya, Dangdut juga. Saya pikir, Dangdut dan pop melayu lebih menjual di luar negeri daripada yan lainnya. Negara mana sih yang ngasilin musik kayak gitu selain Indonesia? Daripada J Rock (gue suka lagu-lagu mereka) yang pasti dilibas sama musik-musik J-Pop. Yah... let see...
Rabu, 16 Juni 2010
Selasa, 23 Maret 2010
I Wanna See Chinesse Baby Girl
Bersyukur saya lahir di Indonesia. Bersyukur pula, saya besar di Indonesia. Walau negeri ini belum berjaya, tapi banyak hal yang patut kita banggakan. Dan hal-hal itu kadang terlupakan dari pandangan kita. Seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampak jelas. Kadang kala kita menginginkan hal-hal yang ada di negara-negara lain, tetapi ada hal-hal yang patut kita ketahui untuk disyukuri.
1. Kita tak punya aturan hanya boleh punya anak satu seperti di China.
Berdasarkan majalah The Economist pada bulan Maret ini, terdapat banyak kasus pembunuhan terhadap bayi perempuan China yang baru lahir. Dan itu dilakukan oleh ayah mereka sendiri. Benar-benar mengulang masa jahiliah. Menurut analisis majalah tersebut, peraturan anak satu mendorong keluarga China lebih memilih anak lelaki daripada anak perempuan. Hal itu disebabkan anggapan membesarkan anak perempuan adalah hal yang merugikan karena setelah menikah, yang akan mendapatkan bakti si anak adalah mertuanya.
Jika keadaan ini terus berlangsung, dalam sepuluh tahun ke depan, China akan mengalami kekurangan pengantin wanita. Kemungkinan besar, akan terjadi banyak perkawinan campuran antara pria China dengan wanita asing. Hal ini sudah mulai merebak di Korea Selatan. 10% pria Korsel menikahi wanita asing sehingga menghasilkan keturunan yang disebut Kosean (Korean-Asian).
Diskriminasi gender juga dialami oleh wanita India. Seperti yang sudah diketahui, dalam budaya India, wanita lah yang membayar biaya melamar pria (seperti uang pembelian di budaya Minang). Hal ini mengakibatkan anggapan bahwa wanita lebih mahal biaya asuhnya sehingga mereka lebih memilih anak lelaki daripada anak perempuan.
2. Tak ada pembagian kasta
Kita bersyukur, Indonesia tak mengenal pembagian kasta seperti di India. Pembagian kasta di sana menelurkan kuota pekerjaan 10% bagi warga negara non Hindu yang dimasukkan dalam tataran terendah. Padahal, jumlah warga muslimnya sendiri 20% populasi India, belum yang beragama Kristen.
3. Sistem Pendidikan kita tak membuat para siswa pulang jam 12 malam.
Di Korea, para siswa SMA belajar hingga larut malam. Mereka masuk pukul 7-8 pagi dan pulang pukul 10-12 malam. Ditambah dengan beban belajar yang berat, hal ini menyebabkan para remaja di sana rentan bunuh diri.
1. Kita tak punya aturan hanya boleh punya anak satu seperti di China.
Berdasarkan majalah The Economist pada bulan Maret ini, terdapat banyak kasus pembunuhan terhadap bayi perempuan China yang baru lahir. Dan itu dilakukan oleh ayah mereka sendiri. Benar-benar mengulang masa jahiliah. Menurut analisis majalah tersebut, peraturan anak satu mendorong keluarga China lebih memilih anak lelaki daripada anak perempuan. Hal itu disebabkan anggapan membesarkan anak perempuan adalah hal yang merugikan karena setelah menikah, yang akan mendapatkan bakti si anak adalah mertuanya.
Jika keadaan ini terus berlangsung, dalam sepuluh tahun ke depan, China akan mengalami kekurangan pengantin wanita. Kemungkinan besar, akan terjadi banyak perkawinan campuran antara pria China dengan wanita asing. Hal ini sudah mulai merebak di Korea Selatan. 10% pria Korsel menikahi wanita asing sehingga menghasilkan keturunan yang disebut Kosean (Korean-Asian).
Diskriminasi gender juga dialami oleh wanita India. Seperti yang sudah diketahui, dalam budaya India, wanita lah yang membayar biaya melamar pria (seperti uang pembelian di budaya Minang). Hal ini mengakibatkan anggapan bahwa wanita lebih mahal biaya asuhnya sehingga mereka lebih memilih anak lelaki daripada anak perempuan.
2. Tak ada pembagian kasta
Kita bersyukur, Indonesia tak mengenal pembagian kasta seperti di India. Pembagian kasta di sana menelurkan kuota pekerjaan 10% bagi warga negara non Hindu yang dimasukkan dalam tataran terendah. Padahal, jumlah warga muslimnya sendiri 20% populasi India, belum yang beragama Kristen.
3. Sistem Pendidikan kita tak membuat para siswa pulang jam 12 malam.
Di Korea, para siswa SMA belajar hingga larut malam. Mereka masuk pukul 7-8 pagi dan pulang pukul 10-12 malam. Ditambah dengan beban belajar yang berat, hal ini menyebabkan para remaja di sana rentan bunuh diri.
Langganan:
Postingan (Atom)