Tampilkan postingan dengan label shout out. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shout out. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

New Blogsite

Yuhuu...lama saya tak menulis di blog ini. Dan sekarang saya mau bilang kalau saya bikin blog baru. Yup, saya bikin blog baru, bukannya mau ninggalin blog ini kok tapi bikin blog baru yang khusus buat ngepost treatment skenario yang saya buat. RUMAH SKENARIO, itu blog baru saya...buat yang berminat, silahkan kunjungi http://rumahskenario.wordpress.com. Berhubung saya belum ngeh sama wordpress, blog itu masih polos banget. Pengennya diatur seperti blog ini, tapi saya bingung gimana ngaturnya. Aaahh...ada yang bisa bantu saya?

Oh ya, blog itu saya bikin khusus untuk menampung ide-ide cerita dalam bentuk skenario atau treatment skenario. Siapa saja boleh bergabung menjadi authornya, nanti biarJadi kalau ada yang mau gabung, silahkan saja kirim email lewat estusucahyo@gmail.com dan kasih pemberitahuan lewat blog tersebut. Dan buat pembaca blog ini, tolong kujungi blog baru saya ya...

Kamis, 27 Januari 2011

Manusia Gaptek Belajar untuk Nggak Gaptek Lagi

Mungkin ini berkah dari tahun baru yang sudah lama lewat atau berkah KKN yang mengharuskan gue mengaktifkan facebook, maka gue mulai mengenal yang namanya teknologi. Sebagai manusia yang telat merasakan manfaat teknologi, gue harus catch up kemampuan berteknologi gue. Di satu sisi, gue bukan orang yang senang memperbaharui status secara berkala dan gue juga bukan orang yang suka membagi perasaan tapi gue butuh jejaring sosial buat mempromosikan blog gue, hehehe.

Yah, tanpa banyak alasan gue sekarang memahami kebutuhan gue akan jejaring sosial. Itu artinya, gue juga menyadari bahwa di waktu lampau, gue termasuk orang yang nggak memahami arti dari jejaring sosial dan menjadikan gue salah satu dari makhluk anti sosial. Secara gue sedang belajar untuk memanusiakan diri gue, gue harus pasrah mengikuti arus trend yang ada di masyarakat. Dan semoga perubahan ini berlangsung secara konsisten dan tidak hanya sebuah trend sesaat saja.

Jadi, buat yang mau berteman sama gue, add aja fb gue ya... www.facebook.com/ceritaestu atau www.twitter.com/ceritaestu.

Sabtu, 13 November 2010

Kali ini Screenplay

Yah, sebagai bahan percobaan...kali ini gue pengen menuliskan screenplay yang udah gue buat. Bukan berarti karya yang bagus karena itu gue mohon banget supaya temen-temen mau memberikan umpan balik ya...

Jumat, 12 November 2010

Berusaha Semaksimal Mungkin dan Gagal Bukan Hal yang Memalukan

Jujur saja, gue bukan orang yang memiliki etos kerja bagus, bisa dibilang banyak banget kekurangan gue dalam hal ini. Sekarang gue sedang dalam upaya memperbaiki etos kerja gue, yah bukan hal yang patut dibanggakan. Salah satu sifat buruk gue adalah gue termasuk orang-orang yang tidak memberikan upayanya sebaik mungkin. Terutama bila yang dituntut adalah kecepatan dan ketelitian, dua bidang yang menjadi kelemahan terbesar gue. Hal itu mungkin disebabkan oleh paradigma lama “Gagal adalah hal yang sangat memalukan”.

Paradigma ini membuat gue menolak untuk memberikan upaya terbaik gue karena gue pikir jika gue sudah melakukan hal yang terbaik dan gue masih gagal adalah hal yang sangat memalukankan. Paradigma itu selalu melekat di kepala gue sejak lama. Mungkin karena gue orang Jawa, gue dibesarkan untuk tidak bermimpi tinggi karena jika jatuh akan terasa sangat sakit. Bukan bermaksud menjelekkan orang Jawa, tapi harus diakui bahwa ini adalah salah satu kelemahan orang Jawa, kurang berani bermimpi. Wah, kayaknya gue keluar jalur nih…

Kembali ke jalur semula….karena gue malu untuk gagal maka gue akan bersikap cuek terhadap effort gue. Gue nggak pernah berusaha sepenuh hati, melakukan banyak hal dengan setengah-setengah. Akibatnya, tidak ada prestasi yang menonjol dan hasil akhirnya adalah melarikan diri. Gue akan membuat alasan atas semua ketidakberhasilan gue dengan alasan yang sama, ah…gue nggak menjadi yang terbaik karena gue hanya setengah-setengah, kalau gue melakukan 100% pasti gue akan berhasil dan sayangnya gue nggak mau. Wah, malu rasanya menuliskan hal itu.

Seperti kata orang-orang pinter, kalau ingin mengubah perilaku ubahlah paradigma yang ada. Dan begitulah, untuk membentuk satu etos yaitu Hardworking gue harus mengubah paradigma gue di atas. Ada dua hal yang menjadi faktor penting di dalamnya. Yang pertama adalah buku Outliersnya Malcolm Gladwell. Si Gladwell ini meyakinkan gue bahwa kesuksesan itu BENAR-BENAR bergantung pada usaha, bahwa bakat menjadi modal dasar dan selanjutnya bergantung pada usaha yang dilakukan untuk mengembangkan bakat itu. Dengan begitu, bakat itu akan menghasilkan suatu prestasi yang membanggakan. Malu nggak sih, gue baru menyadari hal ini saat gue sudah berumur 20 tahun.
Faktor pendorong yang kedua, sebenarnya gue agak malas mengatakannya adalah kegemaran gue pada idola-idola Korea. Pada umumnya mereka berlatih dari usia yang sangat muda sehingga bisa debut pada usia yang masih muda juga. Bisa gue bayangkan, mereka benar-benar serius mewujjudkan mimpi-mimpinya sehingga membuang masa kanak-kanak mereka. Belum lagi dengan tuntutan-tuntutan pihak manajemen mereka yang begitu tinggi. Sesungguhnya gue kagum, benar-benar kagum pada mereka. Mereka masih berusia muda dan bersedia menaklukan rintangan yang begitu besar, sementara gue disini….masih melarikan diri dari masalah. Padahal gue lebih tua dari mereka dan hidup gue nggak mengalami tekanan sebesar mereka. Benar-benar memalukan.

Karena seringnya gue menonton reality show mereka, gue bisa melihat betapa mereka (orang-orang Korea itu) sangat menghargai kerja keras. Mereka akan menyukai artis-artis yang menunjukkan kerja keras mereka dan berperilaku sopan, dan mereka akan menghargai orang-orang yang sudah berusaha keras dan gagal. Orang-orang yang sudah berusaha dan gagal akan mereka kuatkan mentalnya dan publik akan memberikan penghargaan yang tinggi. Dan pada saat itu gue sadar, ah…berusaha keras dan gagal bukan hal yang memalukan. Lebih memalukan lagi kalau tidak berusaha maksimal tetapi memiliki ambisi yang tinggi. Dan untuk merayakan perubahan itu, gue berjanji pada diri sendiri, gue nggak akan menertawakan orang-orang yang sudah berusaha keras dan gagal.

Mungkin ini salah satu hikmah gue tenggelam dalam autism Halyu. Dan pengalaman ini membuat gue benar-benar sadar, Tuhan sayang sama gue dan Tuhan akan membimbing gue menemukan jalan yang terbaik yang mungkin keberadaannya tidak gue sadari.

Kamis, 11 November 2010

A New Hope

Berhubung gue suka menulis dan terlalu cinta menghayal jadi gue putuskan untuk menjadikan kedua hobi gue itu menjadi kegiatan yang produktif. Jadi gue akan memasukkan postingan yang berisi part dari novel yang sedang gue coba tulis. Mohon dukungannya ya...!

Judul dari novelnya To Be Yours, gue agak ragu apakah ini judul yang pantas. Yah, berhubung gue pemula, mohon dimaklumi aja ya.

Terimakasih banyak...

Selasa, 12 Oktober 2010

Hidup dalam Imajinasi

Okelah, ini postingan nggak terlalu penting tapi tetep pengen gue postingin. Mungkin ini salah satu fase yang harus gue alami dari hidup gue, menjadi dewasa (umur 21 belum dewasa juga). Gue senang bermimpi, mungkin karena gue selalu suka dengan cerita-cerita dongeng, gue jadi senang berkhayal. Terkadang gue lupa kalau makhluk hidup itu gak hanya butuh bermimpi, tapi butuh pula hidup di dunia nyata.

Imajinasi bagai candu dalam hidup gue, gue nggak bisa melepaskannya. Mungkin karena kebiasaan dari kecil. Berulang kali gue selalu shout out sama diri gue, lakukanlah sesuatu, tapi entah kenapa begitu susah melakukannya. Jiwa kanak-kanak gue menolak untuk menghadapi masalah. Jiwa kanak-kanak gue menolak untuk menghadapi kenyataan kalau hidup itu yang emang punya banyak masalah. Dan semua masalah itu harus kita selesaikan. Struggling adalah kelemahan terbesar gue...

Pada akhirnya, gue memilih untuk kabur. Gue yang seorang pengecut ini memilih untuk melupakan masalah gue dan kabur dalam imajinasi gue. Ternyata, gue masih sama seperti 12 tahun lalu, hidup dalam imajinasi. Selalu dan selalu...

Pertanyaan yang sudah bosan gue dengar, kapan gue berubah jadi dewasa? Sementara gue suka sifat naif gue, gue suka sifat ceria gue. Gue nggak mau kehilangan senyuman gue, gua nggak mau hati gue berubah menjadi keruh. Gimana caranya gue berubah menjadi dewasa tanpa harus kehilangan semua itu?

Minggu, 05 September 2010

Menjadi Manusia Gaptek

Menurut survey majalah SWA tentang perilaku konsumen di Indonesia, salah satu ciri konsumen Indonesia adalah gaptek. Alias Gagap teknologi. Saya pun dengan berbesar hati mengajukan diri sebagai contoh hidupnya. Walaupun saya bisa digolongkan ke dalam generasi Y (kelahiran antara 1980-1990) yang katanya memahami fungsi teknologi informasi dan memanfaatkannya sebisa mungkin, jujur saya jauh dari itu. Manfaat keberadaan Facebook dan Twitter tak terasakan oleh saya karena saya tak memiliki account keduanya.

Pengalaman dengan friendster yang tak terurus membuat saya menasbihkan berbagai jaringan sosial ini sebagai sebuah trend. Sempat tergoda juga untuk membuat account Linkedlin, tapi saya terlalu sayang melepaskan predikat saya sebagai manusia gaptek. Berhubung predikat gaptek ini sudah tersebar seantero teman kampus, saya memutuskan gaptek sebagai bagian dari diri saya. Taka ada rasa malu di dalamnya dan jujur kebanggaan kecil (yang sepertinya silly) menggantikan rasa malu itu.

Sebagai manusia gaptek, apa yang biasanya saya lakukan ketika meluncur di Internet?

Sebagian besar waktu Internet saya saya habiskan membaca info-info saja, entah info-info soal drama-drama Asia, atau info-info yang menunjang kuliah. Maklum dunia Akuntansi, banyak banget info-info bisnis dan keuangan yang harus saya update (tapi sedikit banget yang nempel di kepala). Saja juga memiliki keanggotaan, keanggotaan yang lumayan out of date, yahoo answer, looklet dan youtube. Yang terakhir saya sebutkan sudah tak pernah saya buka, yang kedua jarang banget saya buka dan yang pertama berhubung saya masih sangat membutuhkannya, sering saya buka.

Sebagai manusia gaptek saya belum mengerti cara membuat jaringan di internet. Maksud saya, saya nggak mampu menghubungkan jenis jaringan yang saya inginkan dengan kemampuan jejaring sosial tersebut untuk membentuk jaringan. Di sisi lain tersandung masalah biaya, sebagai mahasiswa miskin, cost membentuk jaringan lewat internet tersebut belum affordable buat saya. Saya masih menunggu tarif paket data yang lebih murah, hehehe. Dan sebagai mahasiswa yang sibuk (menonton drama-drama Asia), rutinitas update status menjadi hal yang merepotkan. Saya tak menyukai hal-hal yang merepotkan ini.

Doakan saja, Manusia gaptek ini mau belajar untuk jadi nggak gaptek lagi.

Rabu, 16 Juni 2010

Demam K-Pop & Drama

Beberapa bulan terakhir saya sedang asyik-asyiknya tenggelam dalam dunia hiburan Korea, asyik mengamati sepak terjang artis idola terupdate. Walhasil, penyakit Otaku yang sedang saya derita makin menjadi-jadi. Temen-temen Kosan sudah menganggap saya 'pergi ke dunia lain' dunia orang-orang cuek yang tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Dan karena demam K-Pop itulah saya jadi males nerusin blog ini, asyik melototin dance Suju, AS, SNSD, Rain dll. Bagi yang nggak kenal sama nama yang saya sebutin tadi, nggak usah bingung, nama-nama itu nggak cukup penting untuk dimasukkan ke dalam bank pengetahuan Anda dalam rangka mencari pekerjaan. Kecuali jika perusahaan yang Anda incar LG atau Samsung, sedikit memuji artis dari negeri asal mereka mungkin sedikit membantu.

Perkenalan saya dengan K-Pop dimulai ketika sahabat saya memaksa saya untuk melototin foto-foto Choi Shiwon, dilanjutkan dengan MV Suju. MV yang pertama saya lihat adalah Neorago. Dari sana saya jatuh cinta dengan Hangeng, mulailah saya terjun menjelajahi dunia K-Pop. Setiap keping informasi baru masuk perlahan ke otak dan mengendap di sana, keberadaannya mulai mengusir pasal-pasal PSAK yang seharusnya tak boleh lepas dari kepala. Kayaknya kelulusan masih harus menunggu lebih lama. Yah, ini akibatnya kalau tidak memberontak di waktu yang tepat. Maksud saya, harusnya semua ini saya lakukan semasa SMA, bukannya sekarang saat yang lain sedang sibuk mikirin gimana jadi MT di GE atau kerja di Big Four. Yah, tapi gak papa lah, saya nikmatin aja, daripada ntar waktu usia mendekati 30 baru berulah, makin gawatlah efek yang ditibulkan. Hohoho...

Dari K-Pop saya perlahan mendekati Mando-Pop. Sebenarnya bukan dunia musiknya tapi lebih ke dunia drama mereka. Mulai deh saya mempelajari drama Taiwan satu per satu, membandingkannya dengan drama-drama Korea dan dorama Jepang. Satu harapan saya, kapan sinetron Indonesia bisa sebagus mereka. Padahal artis-artisnya gak kalah cantik. Kita punya beberapa sutradara yang cukup handal tapi yah... patut diperbaiki kualitas penulis skenario kita. Kemampuannya belum cukup mumpuni untuk menghasilkan naskah yang bisa meajai Asia. Eh, kayaknya saya keterlaluan bicaranya, ada kok penulis yang bagus. Cuma karena kebanyakan nonton sinetron jiplakan bikin saya jadi berfikir negatif duluan. Btw, saya kaget setengah mati ketika menemukan fakta bahwa Hilman (si bapaknya Lupus) yang bikin skenario Cinta Fitri (1,2,3) secara ide cerita awalnya kan banyak yang bilang njiplak sebuah drama korea (saya nggak tahu njiplak apa, berhubung gak nonton sinetronnya). Wah, saya kaget bukan maen, penulis semumpuni Hilman aja masih kena jeratan ini, apalagi yang lainnya.

Dari demam K-Pop saya juga menyadari kalau orang Korea sangat kreatif dalam membuat industri musik mereka mendunia. semuanya terintegrasi, dari manajemen artisnya, dunia pertelevisiannya, pemerintahannya dan lain-lain. Akibatnya memang membuat kekuatan tawar artis jadi kecil (mudah didepak dari industri ini) tapi mereka berhasil ngekspor industri hiburan mereka ke seluruh dunia. Nggak kecil lho, angka yang disumbangkan buat devisa negara mereka. Mungkin kita bisa meniru mereka. Pertama, mungkin pemerintah kita mau bikin konser-konser Indonesian Pop di luar negeri (kalau nggak salah pernah diadain di Malaysia, ayo kia coa Taiwan, Cina, India, Amerika, dll). Kedua, ayo tambah lagi show-show kretifnya... Ketiga, maksimalin kemampuan manajemen artis. Kemampuan ini benar-benar dibutuhkan untuk membawa dunia musik Indonesia ke luar. Makanya saya sedikit kecewa dengan tindakan Maya Estianti keluar RC dan bikin manajemen sendiri. Buat saya, adalah sebuah tindakan bego untuk meniadakan peran manajer artis. Ya sudahlah, ngomongnya....kebanyakan maki negeri sendiri juga nggak baik.

Btw, kalau dari segi dramanya apa yang bisa saya pelajai? Satu hal yang saya sadari, penulis skenario mereka benar-benar unggul dalam menelurkan ide-ide cerita yang diluar dugaan. Mereka juga jago menciptakan dialog-dialog yang nggak membosankan. Tapi kalau urusan alur cerita, Taiwan jagonya. Makanya drama-drama Taiwan yang ide ceritanya nggambil dari serial Jepang (Itazurana Kiss, Honey & Clover, dll) hasilnya jadi bagus banget. Jepang memang dikenal sebagai pencipta cerita jempolan dari industri komik mereka makanya jika digabungkan dengan kemampuan penyutradaraan Cina, hasilnya jadi double. Kalau dari segi aktor-aktrisnya, nggak tahu deh susah ngebandinginnya. Yang pasti saya sadar, aktor-aktris Korea nggak ngebosenin (tapi mungkin itu juga didukung sama kemampuan operasi plastik mereka). Oh ya... stylist dan make-up artist Korea unggul dari yang lain. Di Indonesia, gaya fashion remaja Bandung mendekati mereka.

Sekarang saya menunggu kapan RAN, Sherina, Vierra, artis-artis RCM, Hello, band-band lagu-lagu melayu (buanyaknya) mendunia dengan musik mereka. Oh ya, Dangdut juga. Saya pikir, Dangdut dan pop melayu lebih menjual di luar negeri daripada yan lainnya. Negara mana sih yang ngasilin musik kayak gitu selain Indonesia? Daripada J Rock (gue suka lagu-lagu mereka) yang pasti dilibas sama musik-musik J-Pop. Yah... let see...